Dewasa ini, isu isu tentang bagaimana keadaan yang terjadi di Indonesia sudah seperti makanan sehari hari di kuping masyarakat di Indonesia. Dari yang positif sampai yang negative sekalipun. Namun sudah biasa memang, jika kita membahas Indonesia, mayoritas orang berkata yang negative. Itu hal yang biasa, dilihat dari fakta fakta kebanyakan. Jika ditelusuri akar dari segala kenegatifan tersebut terdapat kebiasaan yang suka membiasakan hal yang biasa. “ah g papa, dulu kan bapak juga suka kayak gt”, "ah biarin aja kan kakek-kakek kita juga ngajarin kayak gitu",”ah biarlah, tinggal di bayar semua selesai” dan lain lain. Sangat lah tragis memang, bangsa ini sudah terbiasa dengan segala hal yang biasa tersebut tanpa memikirkan kebenaran didalam nya. Manusia diangerahi tuhan pemikiran agar selalu mampu memperoleh solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan. Namun kadang sebagai manusia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita terjebak dalam situasi yang sesungguhnya menuntut kita untuk senantiasa berfikir kritis. Kebiasaan merupakan elemen yang secara sistemik mampu menumpulkan pemikiran kita. Dalam hal ini kebiasaan yang sudah melembaga atau kebiasaan yang diikuti untuk dipatuhi oleh banyak orang. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah kebiasaan-kebiasaan yang salah seolah-olah menjadi benar karena lazim dipraktekan oleh banyak orang.
Korupsi, adalah salah satu contoh yang sangat biasa yang terjadi di Indonesia, yang menjadikan Indonesia menjadi jawara 5 besar Negara terkorup sejagat. Yang dapat kita teliti asal usul nya memang hal tersebut adalah sifat turun temurun yang sudah terjadi sejak zaman belanda datang ke Indonesia, dimana yang sebenarnya yang menjajah Indonesia adalah sebuah perusahaan dagang belanda yang disebut V.O.C (Vereenigde Oostindische Compagnie), perserikatan hindia timur belanda. Atau zaman itu masyarakat biasa mengenal nya “kompeni”. V.O.C itu sendiri dikatakan Negara di dalam Negara, karena boleh memiliki tentara dan boleh bernegoisasi dengan Negara lain. tentara Indonesia jaman dahulu lebih mengenal V.O.C atau perusahaan dagang tersebut adalah tentara belanda. Karena pemerasan dan penindasan yang dilakukan perusahaan tersebut, temasuk didalam nya kebiasaan korupsi. Bagaikan bayi yang mengikuti sifat induk nya, sudah barang tentu makanya Indonesia sekarang seperti ini. Senang dan merasa tak bersalah melakukan korupsi sampai sangat besar jumlah uang yang keluar atau di ambil nya. Tragis memang jika kita mengetahui hal tersebut, jika kita memikirkan bagaimana cara nya untuk mengubah kebiasaan membenarkan terhadap suatu hal yang biasa tersebut menjadi lebih baik yakni dengan membiasakan yang benar. Sangat lah sulit diterapkan. Sempat terdapat badan yang mengurus tentang korupsi dengan maksud meminimalisir tindakan korup tersebut, namun faktanya malah justru kegiatan praktek korupsi sempat terjadi dan bahkan ada main mata dengan pengusaha pegusaha kelas “bajingan” yang bisa dikatakan anti hukum. Jika roda setan tersebut terus berputar, maka dapat di pastikan Indonesia beberapa tahun kedepan akan menjadi Negara 50 tahun mundur kebelakang. Dengan segala kecongkakan nya.
Keluar dari korupsi, masuk ke hukum. Sebagaimana yang kita tahu hukum diindonesia bisa dibilang sangat lah ketat dan up to date dengan segala peraturan yang ada didalam nya, namun kembali lagi ke fakta yang ada, sifat membenarkan yang biasa pun juga terjadi disini. Seperti contoh yang sering kita tahu, kasus tilang. Sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia khusunya kota kota besar, memiliki kebiasaan ( oknum polisi ) mencari cari mangsa. Ketika bertugas dijalanan. Bukan hanya oknum itu sendiri, terkadang warga pun juga masih suka “membayar” kesalahan tersebut agar dapat lebih cepat selesai masalahnya. Jika melihat demikian lalu dimana aspek hukum berdiri? Begitu hal nya yang terjadi di pengadilan. Hampir serupa yang terjadi. lebih parah nya lagi kejadian yang sedang terfokus saat ini yakni pejabat pejabat atau orang orang besar, masih terkena sifat pilih pilih kasih jika mereka tinggal di penjara, kedapatan kamar yang di huni tidak masuk akal, berbeda dari biasanya narapidana kebanyakan. Jelas disana ketimpangan yang sedang terjadi di Negara ini. Bagaimana mereka jera?hukum nya saja congkak.
Membenarkan hal yang biasa tidak melulu terjadi di kelas atas. Kita semua tahu, tentang kasus ujian nasional yang digelar setiap tahun nya seringkali terjadi bocoran jawaban yang di sengaja maupun manual. Hal ini masuk kedalam aspek pendidikan diindonesia dimana hal tersebut jelas membuat generasi penerus bobrok dalam segi pendidikan. Sering terjadi di sekolah sekolah tentang pembagian bocoran jawaban yang sengaja dilakukan agar citra dari sekolah tersebut naik. dengan terlihatnya skor yang sangat tinggi yang terlihat dari siswa siswi didalam nya, hal tersebut jelas salah, karena pertama tidak membuat anak berkembang kedua hal tersebut menjadi suatu hal yang biasa. Dan percaya tidak percaya akan terus berlanjut . mungkin kebanyakan orang tua diluar sana masih banyak yang belum tahu mengenai hal ini yang mereka tau, anak nya mendapat nilai tinggi, dan lolos dengan mudah masuk ke perguruan tinggi tanpa harus mengikuti tes . namun hal tersebut akan mudah diketahui setelah si anak menjalani beberapa waktu di kampusnya kualitas pendidikannya tak sebanding dengan nilai yang dulu di capai nya .
Perilaku yang benar seringkali bisa terkubur atau bahkan hilang dari ingatan masyarakat dindonesia jika tidak dipraktekkan dalam kehidupan. Terdapat ungkapan yang menyatakan bahwa “kebenaran itu menyakitkan, atau kebenaran itu pahit”. Pertanyaannya jika memang kenyataannya kebenaran itu justeru menyakitkan atau pahit, apakah perilaku yang benar harus dihilangkan???. Artinya walaupun menyakitkan atau pahit, akan ada ujung kebahagiaan yang lebih kekal dalam jangka panjang jika kebenaran dipraktekkan. Kesakitan atau kepahitan dalam jangka pendek adalah harga yang harus dibayar untuk mencapai kemajuan untuk indonesia dalam jangka panjang. Banyak pemimpin besar dunia mengurangi waktu tidurnya hingga menjadi kurang dari 5 (lima) jam saja dalam sehari, selebihnya mereka berkarya untuk rakyatnya. Karena para pemimpin itu meyakini kebenaran akan mereka capai, yakni kesejahteraan masyarakat atau peradaban manusia. Mereka rela keluar dari zona kenyamanannya, mereka dengan senang hati mengalami “kesakitan” dalam jangka pendek untuk kebahagiaan jangka panjang bagi lebih banyak orang. Dan seringkali pada perilaku benar itu menjadi minoritas pada masyarakat yang sudah salah kaprah “membenarkan yang biasa”, mereka yang demikian menjadi terlihat aneh, tidak lazim. Indonesia pelaku yang paling utama dalam membenarkan hal yang biasa. dari mulai pemimpin nya saja masih labil, bagaimana bisa merubah rakyat nya yang sejatinya berkaca pada pemimpi mereka.
Maka, jadilah manusia yang kritis terhadap kebiasaan. Kritis lah pada sistem atau apapun yang telah mapan dengan harapan kebahagiaan jangka panjang. Dan jadilah manusia-manusia yang berfikir.
Sumber :
Wikipedia
Edisipertama.wordpress.com
google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar